Kita dan Sifat Arogan
Arogan…suatu kata yang kembali akrab di tengah masyarakat, terutama setelah adanya dugaan penganiayaan oleh pengendara moge kepada seorang pengemudi mobil di Puncak. Setiap orang, siapapun juga pasti tidak ingin menjai korban arogansi orang lain.
Arogan, dalam bahasa inggeris “ARROGANT” berarti congkak, sombong, angkuh (ks), “ARROGANCE” berarti kecongkakan, kesombongan, keangkuhan (kb). Sifat sombong sebenarnya bisa hinggap pada siapa saja.
Seorang pejabat, dapat dihinggapi sifat sombong karena kekuasaan yang dimilikinya. Seorang yang kaya harta bersifat sombong karena dengan kekayaan yang dimiliki yakin dapat membeli apapun juga. Seorang yang berwajah ganteng atau cantik, bisa sombong karena wajahnya.
Ada dua kriteria orang yang sombong yaitu (1) menolak kebenaran; dan (2) meremehkan orang lain. Seorang pengendara moge bisa sombong karena dengan kebesaran motornya meremehkan motor orang lain. Seorang pelaku kesesatan beragama juga masuk kategori sombong ketika ia menolak kebenaran yang ada. Seorang pejabat berlaku sombong tatkala ia meremehkan rakyatnya
Kita sering melekatkan sifat arogan atau sombong itu hanya pada orang kaya atau pejabat atau orang yang berkuasa. Padahal sifat sombong itu juga melekat pada orang miskin, pada rakyat jelata. Perhatikan ketika kita sedang berada di jalan raya. Kendaraan angkutan umum dengan seenaknya menyalip kendaraan lain, menerabas lampu merah atau berhenti bukan pada tempatnya, bahkan “ngetem” (menunggu penumpang) di tikungan jalan jelas sangat mengganggu orang lain. Bukankah sikap pengemudi kendaraan umum tersebut didasari oleh sifat meremehkan orang lain dan menolak kebenaran (hukum lalu lintas)? Lihat juga ketika ada penumpang mobil pribadi yang membuang sampah ke jalan raya, bukankah itu cermin dari meremehkan orang lain? Semoga kita dapat selalu mawas diri, tidak menolak kebenaran dan tidak meremehkan orang lain.
Wallahu ‘alam bish showab
Belum ada komentar.