Pergantian Tahun dan Relevansi Perayaan Tahun Baru
Dalam satu pekan ini, mulai 29 Desember 2008 sampai dengan 1 Januari 2009, suasana tahun baru sangat terasa. Maklum saja pada akhir Desember ini ada dua tahun baru yang berdekatan yaitu tahun baru hijriah dan tahun baru masehi.
Sebenarnya, sebagai suatu sistem penanggalan, tidak ada sesuatu yang aneh dengan pergantian tahun. Pergantian tahun merupakan hal yang wajar, lumrah dan merupakan bagian dari hukum alam. Pergantian tahun bisa jadi merupakan sesuatu yang bermakna jika dijadikan sebagai sarana introspeksi diri bagi setiap orang, dijadikan sebagai sarana evaluasi atas kinerjanya selama setahun. Persoalannya adalah, apakah hingar bingar pergantian tahun tersebut bermakna evaluasi diri atau hanya sekadar hura-hura?
Kalau pergantian tahun hanya dimaknai sebagai bagian dari ritual rutin yang bersifat hura-hura, maka sangat disayangkan karena masih banyak moment yang bisa dijadikan sarana untuk hura-hura. Memang benar kalau kita mau introspeksi diri tidak harus menunggu akhir tahun, setiap haripun seharusnya kita introspeksi diri. Akan tetapi, suatu pergantian tahun akan lebih jelas maknanya jika diisi dengan evaluasi dan introspeksi dibandingkan hanya hura-hura saja.
Jadi, apa relevansinya pesta malam tahun baru dengan pergantian tahun? Pertanyaan ini muncul bukan berarti saya anti pesta tahun baru. Kalau sekadar mencari suasana happy, acara tahuan baruan memang bisa menimbulkan suasana happy, meriah ramai. Tapi, saya hanya sedang mencari jawaban, apa hubungannya pergantian tahun dengan pesta malam tahun baru? Jawaban atas pertanyaan ini cukup penting juga, karena ada saja sebagian masyarakat yang memaksakan diri untuk terlibat aktif dalam kemeriahan tahun baru. Jika jawabannya adalah “untuk senang-senang” maka selesailah sudah pencarian jawaban atas pertanyaan tersebut, karena jika sudah bicara urusan “senang-senang” maka semua hal seolah menjadi sah-saha saja. Tapi, apakah jawaban tersebut benar-benar menjawab hal yang substansial?
Pertanyaan saya tersebut mungkin berkesan “konyol”. Lagi-lagi masalah relevansi antara pesta tahun baru dengan pergantian tahun masih menjadi pertanyaan besar bagi saya. Seandainya masyarakat tidur normal pada saat detik pergantian tahun, tanpa pesta, tanpa terompet, apakah pergantian tahun akan batal? Apakah tahun 2009 tidak jadi hadir jika malam tahun baru tidak perayaan dan tidak ada penghitungan mundur?
Kalau misalnya semua orang di seluruh dunia merayakan malam tahun baru, apakah berarti bahwa pada tahun baru yang akan datang semua masalah di tahun yang lama akan teratasi? Atau jangan-jangan saya yang konyol dengan pertanyaan yang mengada-ada…!
Intinya, ketika kita melakukan (baca: merayakan) sesuatu, haruslah jelas manfaat dan relevansinya…! itu aja kok.
Terima kasih kunjungannya.. salam kenal. Saya setuju jika tahun baru diisi dengan berbagai kegiatan yang manfaat.
Memang setiap hari kita harus mengisi dgn kegiatan manfaat. Namun perayaan tahun baru adalah kenyataan, sehingga penekanan kegiatan yg manfaat menjadi lebih penting.
Dimulai dari diri sendiri, keluarga anak istri, kampung, desa..dsb. Contoh pemimpin sangat dibutuhkan.
Maaf kalau tak berkenan.